Capek Jadi Kuat Terus: Ketika Kita Lupa Bahwa Kita Juga Manusia
Pernah nggak sih, kamu merasa harus selalu terlihat kuat?
Tanpa sadar, banyak dari kita tumbuh dengan keyakinan bahwa menunjukkan kelemahan adalah sesuatu yang harus dihindari. Kita belajar untuk menahan tangis, menyembunyikan rasa sedih, dan tetap berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.
Padahal, menjadi kuat terus-menerus juga bisa melelahkan.
Dalam psikologi, kondisi ini sering berkaitan dengan apa yang disebut sebagai emotional suppression, yaitu kecenderungan untuk menahan atau menekan emosi. Sekilas terlihat seperti cara untuk “mengontrol diri”, tetapi jika dilakukan terus-menerus, justru bisa membuat kita semakin jauh dari apa yang sebenarnya kita rasakan.
Kita jadi terbiasa memvalidasi orang lain, tapi lupa memvalidasi diri sendiri.
Kita mengerti perasaan orang lain, tapi mengabaikan perasaan kita sendiri.
Dan lama-kelamaan, rasa lelah itu menumpuk.
Tidak selalu harus ada kejadian besar untuk membuat kita merasa lelah. Kadang, lelah itu datang dari hal-hal kecil yang dipendam terlalu lama.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan?
Pertama, izinkan diri kamu untuk tidak selalu kuat. Tidak apa-apa jika hari ini kamu merasa tidak baik-baik saja.
Kedua, coba jujur pada diri sendiri. Apa yang sebenarnya kamu rasakan? Sedih? Marah? Kecewa? Semua emosi itu valid.
Ketiga, cari cara untuk mengekspresikan emosi, salah satunya dengan menulis. Dengan menulis, kamu memberi ruang bagi perasaan yang selama ini kamu tahan.
Terakhir, ingat bahwa kamu juga manusia yang punya batas, punya rasa lelah, dan berhak untuk beristirahat.
Menjadi kuat itu penting, tapi bukan berarti kamu harus kuat setiap saat.
Kadang, justru dengan berani merasa lemah, kita sedang belajar menjadi manusia yang lebih utuh.
Di Journelia, kita belajar bahwa tidak apa-apa untuk berhenti sejenak. Karena memahami diri sendiri bukan tentang selalu kuat, tapi tentang berani jujur pada apa yang kita rasakan.
Komentar
Posting Komentar